Skip to main content

Iced Red Velvet Latte

"Iced red velvet latte satu, Mbak." Iced red velvet latte  aku pesan untuk aku sendiri. Hari itu, aku hanya ingin setidaknya ada sedikit kehadiran temanku hari ini. Dia, temanku yang menghilang, satu-satunya temanku yang tergila-gila dengan minuman yang terinspirasi dari dessert ini. 









Duduk di ujung ruangan cafe berhadapan langsung dengan hujan yang hanya dibatasi jendela besar, aku menatap iced red velvet latte yang entah mengapa terlihat pilu, "Dia sedih kah?"

Hari itu, sedikit, hanya sedikit saja, aku ingin ada dia di sini, di hadapanku. Aku ingin melihat dia meminum iced red velvet latte kesukaannya. Aku ingin merasa pusing mendengar dia protes karena rasa iced red velvet latte yang dia pesan terlalu manis. Aku ingin dia menceritakan cerita yang belum sempat aku dengar. Aku ingin tertawa mendengar jokes payah yang biasa dia lontarkan. Aku ingin mendengar keluhan dia tentang banyak hal. Aku ingin melihat dia tertawa. Aku ingin dia di sini, sekarang. Aku hanya ingin menatap temanku yang sekarang entah apa kabarnya.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba waktu kami menghilang atau mungkin habis? Terserah, dimanapun dia, bagaimanapun keadaannya, dan apapun yang sedang dilakukannya, semoga dia tetap seperti minuman kesukaannya, iced red velvet latte. Walau dingin, aku harap dia selalu menjadi anak yang manis. 

Comments

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Menjadi Biasa?

"Emang kenapa kalau hidupku nggak luar biasa?" "Apa salahnya menjadi biasa?" Ketika teman sebaya sudah kesana-kemari dengan kabar bahwa gajinya sudah dua digit, membuka laman sosial media disambut dengan postingan banyak teman yang sudah menikah dan menyiapkan MPASI untuk bayinya, berjabat tangan dengan teman yang sudah mendapatkan pencapaian luar biasa dengan mengisi webinar, lebih jauh lagi ada yang sedang melihat katalog rumah dan membeli rumah, menengok kanan-kiri ada teman yang sedang membicarakan mobil barunya yang berwarna silver, belum lagi ada yang sedang mengikuti kelas dan melanjutkan sekolah, atau postingan teman sebaya mirror selfie dengan lanyard Gucci menggantung di leher dan bersepatu tory burch. Sementara aku, hanya duduk bersebelahan dengan kegagalan. "Kenapa aku nggak bisa kayak gitu ya? Tapi emang apa salahnya kalau nggak kayak gitu? Apa salahnya menjadi biasa?"  Apa salahnya nggak punya gaji dua digit? Apa salahnya belum beli rumah...

Menjadi Mindful dan Fokus untuk Hidup Saat Ini

Since hidup aku dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran, pikiranku penuh dan berisik banget setiap malam. Aku juga merasa pikiran aku melompat kesana-kemari, sulit sekali untuk fokus. Nggak jarang, hal-hal yang muncul di pikiranku adalah berbagai  negative thought.  Takut dan khawatir sudah jadi teman akbrab hahahaha.  Loh emang mikirin apa sih?   Apapun... secara nggak sadar semua hal aku pikirin, mulai dari besok akan ada hal buruk apa ya? Aduh kemarin aku kayaknya pakai baju jelek banget deh? Kalau pas  interview  tiba-tiba nanti mati lampu gimana ya? Waktu itu aku harusnya kasih jawaban ini deh bukan itu? Kayaknya aku salah deh kalau ambil langkah ini? Kayaknya kemarin aku salah deh ngelakuin itu? Gimana ya kalau orang-orang nilai aku jelek? Gimana ya kalau aku dikira aneh? Kalau aku nyebrang, aku ketabrak gak sih? Ih kayaknya tadi aku presentasi jelek banget deh? Kalau KRL ini tiba-tiba jeblos gimana ya? Gimana ya kalau aku nggak lulus matkul ini? Kaya...

Ice Cream

aku putuskan untuk melupakan kejadian semalam, pelukan hangat kami di bar itu kuanggap sebagai suatu kesalahan. tidak sebenar-benarnya kesalahan, untuk pria dan wanita usia 30 biasa saja jika berpelukan, kan? walau status kami bersahabat dan sepertinya ini kali pertama kami bersentuhan. ah, apa sebelumnya pernah? "Ah! Es krim!! Aku mau ya?" Seperti biasa, hal pertama yang aku lakulan ketika aku mengunjungi rumah sahabatku satu ini adalah menggeledah lemari es. "Hari ini panas banget, untung kamu selalu stok es krim."  "Bawel, itu kan karena lo suka. Lo semua yang habisin stok es krim di kulkas gue." Ujarnya dengan nada yang sedikit terdengar kesal. Aku sedikit lega karena dia juga bersikap biasa saja. Aku memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya karena aku dengar dia demam. "Kamu udah gapapa? Masih demam? Mau makan apa? Makanya kalau kerja itu tahu waktu dong, jangan paksain diri." tanyaku sedikit khawatir, ya.. dia memang sudah terlihat baik-baik...